Social Icons

Pages

Senin, 07 Maret 2016

[Ngobrolin Fantasi di Indonesia dari Buku Sampai Film] Angkat Film dari Buku, Baiknya Si Penulis Ikut




Tak sedikit pengalaman film-film yang diangkat dari buku laris, dalam hal ini buku bergenre fantasi, malah mengecewakan. Wabil khusus bagi para penggemar garis keras bukunya sendiri. Versi film kerap dianggap kurang mewakili interpretasi dan imajinasi yang kadung terbenak di kepala tiap pembaca bukunya. Yep, baca buku memang unik. 


Bikin Film Anak, Masuk Surga

Menurut Admin Penggemar Novel Fantasi Indonesia Abdurrafi Andrian, hal ini dapat diatasi jika mengikutsertakan si penulis buku yang diangkat ke film itu dalam tim kreatif. Ikut bukan sembarang ikut, tapi menjadi salahsatu penentu utama, decision maker, di proses pembuatan filmnyaHmm, terdengar ideal, ya?

“Lebih baik baca bukunya dulu, karena hampir semua buku fantasi mengarah kita berimajinasi lebih eksplor lagi. Sementara di film ada screenplay sendiri, tergantung fantasi penulis skenario. Mungkin kalau penulis [bukunya] diikutkan dalam pembuatan filmnya lebih baik,” sarannya dalam “Ngobrolin Fantasi di Indonesia dari Buku  Sampai Film", Islamic Book Fair, Istora Senayan, Jakarta (5/3/16).

Narasumber lain, sutradara dan produser film Harry Dagoe baru-baru ini menerbitkan buku anak bergenre fantasi “Qasidah Berjanji”. Kabarnya, buku terbitan Pastel Books (Mizan) itu akan diangkat menjadi film animasi. Rafi, begitu ia disapa, yang juga membaca buku kolaborasi Harry dengan penulis cilik Salma Abdillah ini, memberikan saran dan harapan.

“Jika nanti dianimasikan, fantasinya tidak perlu ditonjolkan. Tapi untuk esensi yang kuat, lebih ke anak-anak yang mencari kebaikan. Karena fantasi di masyarakat Indonesia masih sedikit konservatif. Melihat sesuai hal yang fantasi aduh ini apaan, sih? Kok kayak gini? Masih belum menerima. Mungkin fantasinya dikurangi, esensi anak-anaknya lebih ditonjolkan,” tandas pemilik blog bibliough.blogspot.co.id

Bicara film anak, saking jarang ada pelaku sinema nasional menelurkan tontonan untuk anak-anak, apalagi tuntunan, maka bagi siapa yang membuat, sangat diapresiasi jerihpayahnya, tak terkecuali Harry Dagoe. 

“Ada teman saya bilang: ‘Har, kalo elo bikin film anak-anak, masuk surga’. Kenapa? karena menghibur anak kecil ya pasti kita memberikan hal-hal yang baik. Sementara di Indonesia untuk film anak sendiri komersialnya sangat tinggi, karena memang jarang filmnya. Jadi dia selalu dibutuhkan,” jelas sutradara Jenderal Kancil The Movie (2012). 

Hadir juga dalam diskusi interaktif ini, penulis Undead Series #1: Air Mata Bulan, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

      

  



.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text