Social Icons

Pages

Jumat, 18 Oktober 2013

"Guru Harus Menggurui”


Ungkapan “guru tidak boleh menggurui” dalam proses belajar-mengajar kerap terlontar hampir di tiap forum yang mengupas pendidikan. Menurut Aktivis Pendidikan Habe Arifin, ungkapan tersebut justru mendekontruksi peran dan sosok guru sehingga perlu ditinjauulang.  Hal ini disampaikan dalam peluncuran buku ‘Mindset Pembelajaran: 10 langkah mendidik siswa secara kreatif dan humanis’ karya Yusron Aminulloh di ICMI Center, Jakarta. (21/7/11).

Rabu, 16 Oktober 2013

Untuk Truk Pembawa Cinta, Harapan, dan Konsistensi


Judul : Di Bawah Bendera Merah
Penulis : Mo Yan
Penerjemah : Fahmy Yamani 
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Juli 2013

Sebagian orang anggap cerita orangtua bisa sangat membosankan. Bagiku, sebosan apapun, selalu ada petikan pelajaran dari mereka yang lebih dulu merasakan banyak manis-getir kehidupan.


Pengabdian Perempuan untuk Profesinya



“Maksud saya, mengatasi kemiskinan , sistem sosial, dan adat jauh lebih mendesak daripada membuat kemajuan dalam perawatan medis,” – ginko (hal. 287)



Ada banyak kisah hidup perjuangan perempuan di dunia melawan patriarki, dan yang bermain cantik salahsatunya adalah Ginko Ogino  (1851-1913). Mengidap penyakit yang begitu aib tidak membuatnya menyerah pada keadaan. Apa yang tidak mematikan malah membuatnya kian kuat. Sakit dan perih melecutnya menjadi seseorang dengan profesi terhormat, di mana belum ada satupun perempuan Jepang meraihnya; berhasil menerobos birokrasi Meiji demi secarik lisensi kedokteran dan membuka klinik kebidanan dan ginekologi.

Saya 'Dijewer' Komik


Identitas sebagai seorang muslim sudah seharusnya selalu menjiwai di tiap kerja dan karya. Sehingga yang keluar merupakan hal esensial, konstruktif, menggerakkan dan membawa kemaslahatan. Tak terkecuali bagi komikus. Komik untuk sebagian orang hanya bacaan ringan atau hiburan senggang yang diletakkan di kolom belakang surat kabar. Namun di tangan seorang muslim, tiap strip komik adalah pesan kenabian yang dibalut ringan dan kocak tanpa bermaksud menggurui.


Secara Virtual Juga Spiritual

Jiwa sosial bisa dilatih. Bagaimana caranya? Mudah. Jangan berpikir lama untuk berbuat kebaikan. Spontan. Seperti angin yang berhembus. Lakukan saja. Niatkan hanya untuk ridhaNYA. Mas Agus tidak pernah berencana akan membuat Rumah Amalia, sebuah oase  di antara kegersangan ibukota. 


Kabarkan Dunia, Banditbandit Budiman Telah Kembali!

Ketiga kepala perampok  terkejut.
                “Mengapa kau membakar rumah ini? Apa karena akan melindungi kami?"
“Bukan. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku tidak terlibat dengan semua ini. Kejadian malam ini membuatku seolah telah menjebloskan kalian ke dalam perangkap.”
“Jangan bercanda. Apa yang terjadi, kami tidak akan berpikir bahwa saudara Naga Sembilan-lah yang telah memasang perangkap untuk kami. Tunggu. Jangan dibakar.”
Sambil berteriak, mereka meletakkan tangan di belakang punggung untuk menunjukkan bahwa mereka sudah pasrah.
“Kami sudah menyusahkanmu yang telah berbuat baik dan mau berteman dengan kami kaum perampok. Sekarang waktunya bagi kami untuk menyerah. Silakan ikat kami dan serahkan kami kepada petugas kabupaten.”

                                                              ***


Saat Pemerintahan Dinasti Sou, di bawah Kaisar Ki Sou yang sewenang-wenang, kekacauan dan kebusukan merambah keseluruh penjuru negeri. Orang-orang mulai merasa bodoh apabila melakukan pekerjaan yang benar dan wajar, yang pada gilirannya  membuat mereka berkeinginan menghirup udara dunia liar semau mereka. Terbentuknya sarang-sarang perampok di atas gunung tentunya juga akibat kebusukan Pemerintahan Kaisar Sou tersebut.

Namun dalam kelamnya dunia kejahatan ternyata masih berpendar setitik cahaya (atau lebih tepatnya: 108 titik cahaya). Sebagian bandit punya prinsip tidak merampok kecuali kepada pejabat dan orang kaya saja. Bahkan demi tegaknya keadilan, seseorang rela berkorban untuk orang lain. Sehingga Shu Bu, Chin Tatsu dan You Shun tidak habis pikir dengan Shi Shin yang rela membakar warisan leluhurnya selama ratusan tahun demi melindungi mereka; tiga berandalan dari gunung yang baru dikenalnya. Tiga pemimpin perampok yang pernah hendak merampok rumahnya. 

Semua memang sudah suratan dari langit. Keputusan Shi Shin keluar dari zona nyaman, justru membuka jalan untuk menempuh petualangan-petualangan seru dan menegangkan. Satu persatu bertemu bagaikan jodoh, saling menguatkan satu sama lain untuk menjalani takdirnya.

Meski buku ini tak banyak menyajikan aksi laga yang deskriptif, kehadiran karakter- karakter jagoan yang anti-hero sempat menimbulkan ‘sympathy for the devil’. Bahwa mereka merampok bukan tanpa alasan.  Demi bertahan hidup di antara kepungan pimpinan lalim dan para abdi istana yang korup. Mereka pun harus tetap waras di tengah ketidakwarasan. Bahwa keadilan sejati adalah mengubah jeritan menjadi senyum kebahagiaan.  

Shin Suikoden merupakan upaya penuturan ulang Eiji Yoshikawa akan kisah klasik Cina, Suikoden (Batas Air). Buku yang diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang ini, merupakan pengobat rindu para penggemar penulis magnus opus Mushashi. Ini adalah kisah Shi Shin dan para bandit budiman titisan 108 bintang yang akan melakukan perubahan besar, meski harus menempuh jalur di luar hukum yang berlaku. Jadi, kabarkan kepada dunia. Para bandit budiman telah kembali!

AW.

============

Judul :             Shin Suikoden Petualangan Baru Kisah Klasik Batas Air (Buku 1)
Penulis:           Eiji Yoshikawa
Penerjemah:      Jonjon Johana
Penerbit:           Kansha Books (a division of Mahda Books) 2011
Tebal:               486 halaman      
ISBN:              978-602-97196-1-1          

not your average islamic novel

buku ini tdk menjanjikan jalinan cerita khas novel-novel islami populer (sudah diwantiwanti di sampul depan: 'bukan novel biasa').tapi lebih kepada pesan-pesan yang ingin disampaikan lewat dialog dan debat antara Rahmat dan Kemi, atau Rahmat dan dosen2 liberal. cerita mengalir begitu cepat, tidak ada pendalaman karakter, seperti hendak segera mempertemukan pembaca kepada paragraf-paragraf esensial sebagai counter attack terhadap pemikiran pluralisme, multikulturalisme, dsb.


 

Sample text

Sample Text

Sample Text